Selasa, April 16, 2013

... SEBUAH KISAH YANG MENGHARUKAN HATI ...

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim … 

Sebagai seorang wanita yang cantik, Dina memiliki hampir segala yang diimpikan kaum wanita. Parasnya ayu, manies dan selalu enak dipandang. Bentuk hidung, mata, alis, bulu mata hingga ke garis pipi yang tertata indah bak bulu perindu diatas bintang timur diwaktu senja. 

Posturnya tubuhnya sangat ideal untuk seorang wanita. Kulitnya yang putih dan jenis rambutnya yang panjang hitam bergelombang menambah nilai keaggunannya. Kemolekan lekuk tubuhnya menyebabkan ia sering disebut wanita terseksi.

Dina, seorang wanita karir pada salah satu perusahaan swasta besar di Ibukota, termasuk wanita yang cerdas. Ditunjang pendidikan formalnya yang merupakan alumni Pasca Sarjana Komunikasi Universitas ternama.

Loyalitas terhadap perusahaan tidak diragukan lagi, sehingga menjadikan dirinya sebagai salah satu ’maskot’ pegawai diperusahaannya. Tak heran bila karirnya bagai ’rising’ star. belum sepuluh tahun bekerja, dia sudah menduduki jabatan penting, setingkat Department Head (Kepala Bagian). Dikenal dekat dengan bawahan. Suppel dan mampu berkomunikasi dengan baik dengan jajaran pimpinan.

Tipikal Dina selalu menjadi bahan pembicaraan dikalangan pegawai, gunjingan hingga tentu saja ’fitnah’ dari orang-orang yang tidak menyukainya. Apalagi ketika terdengar kabar bahwa dia akan dipromosikan menjadi salah satu deputy kepala divisi.
’ah…paling dengan keseksiannya’ kata mereka yang tidak suka.
-----

”Ibu mau kemana….?” tanya Fitri, puteri bungsunya
”Ibu mau berangkat ke kantor nak…” jawab Dina, sambil merapihkan pakaiannya

”Kok masih gelap bu….bareng ayah gak bu…?” tanya Fitri lagi dengan bahasa anak yang agak cadel

”Ayah khan belum pulang nak. Masih di Bandung…” jawab dina, tanpa memalingkan wajah dari cermin hiasnya

Jam masih menunjukkan pk. 04.25 pagi. Hari masih gelap. Anak-anaknya masih terlelap, kecuali Fitri yang terbangun karena mendengar suara peralatan riasnya.

”Aku tidak boleh terlambat…aku harus tiba sebelum Bos dan Klienku datang..” pikir Dina dalam hati.

”Bu, aku masih mau tidur….” kata Fitri
”Iyya nak….”

Dina mencium kening anak puteri satu-satunya itu. Dengan penuh kasih sayang dipeluknya erat sambil berkata pelan, ”Nanti sekolah sama si Mbok ya….sarapan disekolah juga gak apa-apa kok…Ibu harus berangkat pagi-pagi…”

”Ah, Ibu…kemarin sudah pegi pagi…kemarinnya lagi pagi, sekarang pagi lagi…” keluh Fitri, dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.

”Fitri, Ibu bekerja juga untuk Fitri. Untuk sekolah Fitri dan Adit…..untuk membelikan Fitri rumah-rumahan dan masak-masakan…” jawab Dina pelan

”Tapi Ibu selalu pulang malam. Fitri gak pernah tidur bareng Ibu. Makan sama si Mbok…sekolah juga sama si Mbok….” keluh Fitri lagi sambil menggulingkan tubuhnya.

”Fitri, Ibu mau berangkat…..kamu berangkat sama si Mbok ya…!” seru Dina dengan sedikit keras dan wajah agak memerah.
Dina segera keluar kamar. Dia memang tidur bersama anak puterinya yang masih berusia tiga tahun. Ketika akan membuka pintu kamar, Dina menyempatkan diri melihat raut wajahnya dicermin.

Terlihat jelas rona merah diwajahnya. Warna kulitnya yang putih menambah kejelasan ’rona merahnya’. Dina menghela nafas panjang, kemarahan sesaat telah merubah tutur bahasanya. Sudah merubah pula paras ayunya…

”Huh…Fitri selalu membuat aku marah….Fitri sering memperlambat jalanku ke kantor…” keluhnya sambil mengusap keringat didahinya.

”Ah sudah pk. 04.45…aku bisa terlambat …”

Dina mempercepat langkahnya. Sampai diteras rumah keraguan muncul dihatinya….Dia belum sempat bicara dengan Adit, anak sulungnya…

”Ah dia khan sudah tujuh tahun. Sudah lebih besar. Dia pasti ngerti lah…”

—oooOooo—

Presentasi mengenai pengembangan perusahaan, khususnya bidang komunikasi, kemitraan dan pemasaran yang dipaparkan Dina memdapatkan sambutan luar biasa dari Stake Holder (Pemegang Saham, Komisaris, Jajaran Direksi dan Mitra Kerja).

Sambutan itu ditandai dengan tepuk tangan meriah sambil berdiri dan ucapan selamat yang seolah tak putus.

Senyum sumringah tersembul dari wajah Dina. Perasaan puas memenuhi rongga hatinya. Dia menghela nafas panjang. Memejamkan mata sesaat….”Akhirnya aku berhasil….”
Untung aku bisa mempersiapkan diri dengan baik. Untung juga aku tiba lebih awal sehingga bisa mengkondisikan semuanya…….

”Dina selamat ya….tidak sia-sia kami menempatkan kamu sebagai Dept Head Promosi & Kemitraan…..” kata seorang Direksi sambil menjabat erat tangan Dina.

Jabatan tangan yang terasa ’lain’. Terasa ada getaran ’hangat’ yang menjalar melalui jari-jari terus hingga pangkal tangan, dan meluncur deras dihati. Jantung berdegup kencang…entah perasaan apa itu. Yang jelas perasaan itu membuatnya pikirannya ’kacau’, hatinya diliputi oleh suatu misteri..entah misteri apa.

”Dina, kerja kamu luar biasa…..masih muda, cantik, jenius….tak salah jika Perusahaan memberimu posisi tsb…..” kata seorang Komisaris. Pujian komisaris menambah kencang degup jantungnya…seolah darah berhenti mengalir. Seolah kaki sulit untuk digerakkan.

Dengan menghirup nafas pelan, Dina membalas pujian tsb
”Terima kasih Pak..terima kasih…semua berkat bantuan dan bimbingan Bapak…”

”Berapa usiamu sekarang… adakah 40…?” tanya Komisaris itu lagi
Dina tersipu malu…..rona merah kembali menghiasi wajahnya….
”Saya baru 34…. Pak…” jawab Dina sambil tertunduk malu
”Wow…Surprise…kita memiliki calon direksi termuda. Cantik, jenius dan ber-visi…semoga kamu sukses ya….”

Dina terkesima. Tak percaya. Calon direksi….? ah, gak mungkin… aku salah dengar….

—oooOooo—

Minggu, pk. 04.00 Dina terbangun ..

Ohhhhh….lelah pikiran dan badannya membuatnya agak sedikit malas untuk bangun. Namun undangan stake holder untuk sekedar minum kopi pagi di Kafe Padang Golf mengharuskan dia untuk segera bergegas…..

”Ah….ngantuknya…..

Dina kembali merebah hkan badannya….rasanya dia ingin meliburkan diri bersama anak-anaknya….terutama Fitri yang kemarin membuatnya sedikit marah….

Tapi…undangan Direksi dan Komisaris adalah sebuah ’Perintah’… laksana titah Raja yang harus dijalankan, meskipun hanya ajakan sambil lalu…

”Ahhhh…..”
Dina mulai menyiapkan diri. Mandi pagi dan sedikit bersolek…. tampil agak cantik dan…hmmmm.. seksi dikit rasanya tidak apa-apa. Toh akan bersantai bersama orang-orang penting ’penguasa’ kantor….’apalagi bila….bila ada yg tertarik padaku…’ pikirnya..

’ah pikiran ngelantur…..’ pikirnya lagi

”Ibuuuu….Tolong tidurkan aku Bu….” seru Adit sambil berjalan pelan dan membawa bantal guling yang sarung entah kemana.

”Adiiit….?” tanyanya heran
”Adiit….” seru Dina kembali. Heran, tidak biasanya Adit bangun pagi dan pindah ke kamarnya.

”Ibuuu…tolong tidurkan aku bu…semalam aku gak bisa tidur…aku kepikiran Ayah….aku ingin bermain bersama Ayah….”

”Adit. Hari ini Ibu masuk kantor….Ibu akan bertemu Bos di kantor…” jawab Dina

”Ibuuu…tolong tiduri aku…aku ngantuk …pengen tidur bareng Ibu…” pinta Adit, kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan Dina, Ibundanya…

Dina terdiam. Hatinya semakin membuncah….perasaan malas memenuhi undangan Direksi kembali muncul….tapi motivasi untuk memperlihatkan loyalitas demikian tinggi…dus, dia sudah berdandan seksi.

Diusap-usap perlahan kepala Adit. Rambutnya yang sedikit ikal bergelombang mirip seperti rambutnya. Bentuk wajahnya yang agak oval dan halus merujuk pada ayahnya…

”ahhh..aku jadi ingat Mas Darman. Wajah Adit mirip ayahnya…. semalam dia memberi kabar kalau Meeting di bandung diperpanjang karena banyak Klien baru yang ikut datang….” bathin Dina dalam hati….seketika ia merasa bersalah dengan suaminya.

”Adiiit, Ibu harus pergi sayang….. Ibu harus masuk kantor…..”

”Tapi buu…” Adit tidak bisa meneruskan kalimatnya, karena Dina mengangkat kakinya perlahan, sehingga kepala Adit berpindah ke bagian pinggir tempat tidur.

Dina meneruskan riasannya dimuka cermin yang ada di sisi kanan tempat tidurnya. Bibirnya diolesi lipstick tipis warna merah muda, sesuai dengan pakaian yang dikenakannya. Pakaian terbaik yang dimilikinya, hadiah Ulang Tahun dari Mas Darman suami tercinta.

”Mas Darman pasti akan silau bila melihat aku sekarang. Pasti akan memujiku ’Cantiiik’..hehehe…sayang dandananku saat ini untuk orang lain….”

”Huk..huk..huk..” suara batuk kecil beriak keluar dari mulut Adit
”Adiit, kamu batuk. Jajan apa kamu kemarin” tanya Dina sambil terus memainkan penghalus bedak dipipinya.

”Huk..huk..huk..” suara itu kembali terdengar
“Mboookkk….tolong ambilkan air putih hangat. Adit batuk nih” teriak Dina dari dalam kamarnya

Tepat pk. 05.00 Dina meluncur menuju Kafe Padang Golf. Perjalanan akan memakan waktu 30 menit. Cukuplah. Karena pertemuan dan sarapan kopi pagi baru akan dimulai pk. 06.00. Tapi biasanya banyak yang sudah datang dengan perlengkapan stick golf, termasuk pemilihan ’caddy’ pendamping permainan golfnya nanti.

—oooOooo—

Dina sangat menikmati suasana Kopi Paginya. Dia begitu cepat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Tidak ada lagi perasaan canggung, malu dan minder bercengkerama dengan jajaran Direksi, Komisaris dan Pimpinan Unit Mitra Kerja. Apalagi dalam acara yang dikemas secara informal ini. Seolah ia sudah menjadi bagian dari mereka. Jajaran elit perusahaan.

”Penuhi jiwa ini dengan satu rindu…rindu untuk mendapatkan rahmat-Mu…meski tak layak ku harap debu Cinta-MU” ringtone HP Dina berbunyi….

”Maaf Pak,,,,,,,” Dina tak sanggup meneruskan kata-katanya untuk meminta ijin mengangkat Hpnya.

”Silakan ..silakan….ini suasana santai kok” jawab salah seorang Direksi
”Permisi Pak”

”Meski begitu ku akan bersimpuh… Penuhi jiwa ini dengan satu rindu…rindu untuk mendapatkan rahmat-Mu….” ringtone itu terus berbunyi…

Ditempat yang agak jauh dari kerumunan orang Dina mengangkat Hpnya…

”Hallo….” sapanya

”Bu…kamu ada dimana sekarang….?” tanya suara disana dengan lembut

”Sedang bersama Direksi dan komisaris di kantor.. Yah …” jawab Dina

Ohhh,…ternyata dari mas Darman, suaminya. Dina terbiasa memanggilnya Ayah, menyesuaikan diri dengan panggilan anak-anaknya

”Lho emangnya masuk… ?” tanya Mas Darman lagi

”Iyya Yah…”
”kapan pulangnya…Adit sakit di rumah kata si Mbok…”
”nanti siang…..atau mungkin juga sore…”
”Yaa sudah…biar Ayah saja yang pulang segera”

—oooOooo—

Pk. 15.30 Dina kembali kerumahnya. Sarapan Kopi Pagi di kafe Padang Golf ternyata diteruskan dengan acara ramah tamah dan meeting informal dengan Mitra Kerja dan Klien. Beberapa Kontrak Kerja ’deal’ setengah kamar dalam ramah tamah itu. Dina baru mengetahui kalau banyak ’deal’ ’deal’ kontrak kerja yang putus di Kafe, Padang Golf serta jamuan makan. Mungkin karena lebih santai dan informal….pikirnya, sehingga lebih mudah untuk bicara dari hati ke hati

Tiba di ujung jalan pemukiman, Dina melihat banyak orang berduyun menuju satu rumah dengan membawa nampan, rantang dan gelas-gelas kecil.

”Ada apa ini…?” tanya Dina dalam hati

Ada bendera kuning terikat di atas tiang listrik tepi jalan…
”Ohh ada yang meninggal….”

Dina mempercepat langkahnya. Ia juga ingin melayat. Ia tak ingin juga tertinggal dalam urusan sosial di lingkungannya….

Tak berapa lama Dina tersentak. Kakinya kaku tak bisa digerakkan…. dia melihat banyak orang berkerumun dipekarangan rumahnya. Kebanyakan ibu-ibu dan wanita yang mengenakan pakaian berwarna gelap dan berkerudung. Bapak-bapak ada di ruang tengah…

”ohh…apakah…apakah…..”
”Tidaaaakkkkkkkkk”

Dina mencoba untuk berlari. Namun kakinya semakin sulit bergerak.

Air mata Dina deras mengalir ketiak ia melihat seorang bapak berpeci hitam dan berpakaian muslim putih sedang melantunkan ayat-ayat Qur’an. Dari suaranya tersendat terlihat jelas bahwa Bapak itu menahan tangis. Kadang sesegukan sesekali menghambat laju bacaan Qur’annya..

”Mas Darman…..Ayahhhhhh” seru Dina setengah berteriak
“Ayah siapa yang meninggal Yah….?” tanya Dina kepada Bapak yang sedang mengaji tadi

”Ayah..siapa yah….?” tanyanya lagi
Bapak tadi tidak menjawab. Telunjuk jarinya mengisyaratkan bahwa Dina bisa membuka kain kafan yang belum tertutup

Dengan sedikit merangkak, Dina berjalan tersendat, dan membuka kain kafan penutup wajah si mayit.

”Yaa Allah…Aadiiitttt” Dina langsung memeluk tubuh jenazah itu
”Maafkan Ibu Nak….maafkan Ibu nak…….” teriak Dina keras, membuat seisi rumah menoleh kepadanya. Bahkan beberapa orang yang berada di luar juga berlari kearah rumah
”Adddiiiiittttt….Sini nak…Ibu akan tiduri kamu…Ibu akan tidur bersamamu Nak…..”
”Addiiittttt bangun nak..Ibu sudah pulang…Ibu sudah pulang nak….”
”Ibu ingin tidur bersama mu….”

Dina meraung keras seperti anak kecil yang kehilangan orang tuanya….air matanya mengalir deras. Tak kuasa menahan sedih. Rasanya ingin sekali ia menggoyang-goyangkan tubuh kaku itu agar kembali bergerak….namun Mas Darman segera merangkulnya. Memeluknya. Dan mencium keningnya…

”Bu….ini salah kita..salah Ayah….Ayah terlalu sering meninggalkan keluarga..”

”Bukan Yah…ini salah Ibu…tadi pagi Adit minta ditemani tidur, tapi Ibu tolak…”

”Ya sudahlah…ini salah kita semua. Adit terkena paru-paru basah akut. Dan terlambat ditolong…..”

—oooOooo—

Anak, isteri, suami dan keluarga adalah perhiasan dunia. Perhiasan yang paling indah adalah istri yang sholeh (Amar’atush-Sholihah), suami yang adil (’imamun ’adilun) dan anak-anak yang mendoakan orang tuanya (awaladdun sholihin yad’ulah)

Senin, April 15, 2013

Angin, Hujan dan Sakit Hati

Kenapa ada angin?
Agar orang-orang tahu kalau ada udara di sekitarnya.
Tiap detik kita menghirup udara, kadang lupa sedang bernafas.
Tiap detik kita berada dalam udara, lebih sering tidak menyadarinya
Angin memberi kabar bagi para pemikir
Wahai, sungguh ada sesuatu di sekitar kita
Meski tidak terlihat, tidak bisa dipegang

Kenapa ada hujan?
Agar orang-orang paham kalau ada langit di atas sana
Tiap detik kita melintas di bawahnya, lebih sering mengeluh
Tiap detik kita bernaung di bawahnya, lebih sering mengabaikan
Hujan memberi kabar bagi para pujangga
Aduhai, sungguh ada yang menaungi di atas 
Meski tidak tahu batasnya, tidak ada wujudnya

Begitulah kehidupan. 
Ada banyak pertanda bagi orang yang mau memikirkannya

Kenapa kita sakit hati?
Agar orang-orang paham dia adalah manusia
Tiap saat kita melalui hidup, lebih sering tidak peduli
Tiap saat kita menjalani hidup, mungkin tidak merasa sedang hidup
Sakit hati memberi kabar bagi manusia bahwa kita adalah manusia
Sungguh, tidak ada hewan, binatang yang bisa sakit hati
Apalagi batu, kayu, tanah, tiada pernah sakit hati

Maka berdirilah sejenak, rasakan angin menerpa wajah
Lantas tersenyum, ada udara di sekitar kita

Maka mendongaklah menatap ke atas, tatap bulan gemintang atau langit biru bersaput awan
Lantas mengangguk takjim, ada langit di sana

Maka berhentilah sejenak saat sakit hati itu tiba, rasakan segenap sensasinya
Lantas tertawa kecil atau terkekeh juga boleh, kita adalah manusia
by: tere liye

Bulan purnama dan kita



Bulan itu tidak punya cahaya. Tapi kenapa dia bisa bersinar indah?
Karena dia memantulkan cahaya dari benda lain. 

Jadi, jangan cemas jika kita merasa tidak memiliki cahaya sendiri
Jangan rendah diri, minder, itu tidak baik.
Pantulkan saja cahaya dari orang lain, kita akan ikut bersinar indah
Punya teman-teman yang baik dan saling menasehati
Pantulkan nasehatnya, repost, copas, share
Punya teman-teman yang pandai dan rajin
Pantulkan pandai dan rajinnya
Bahkan punya teman-teman yang jago main futsal
Pantulkan jagonya, ikut bermain bola

Maka kabar baiknya akan tiba,
Lama-lama, kita sendiri yang akan memiliki cahaya tersebut

Kenapa purnama itu bisa begitu elok?
Karena dia memantulkan cahaya matahari di malam yang justeru gelap.
Selalu begitu.

by : tere liye
Daripada Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda,
"Malapetaka itu akan terus menimpa orang mukmin lelaki dan perempuan, menimpa dirinya, anaknya ataupun hartanya sehingga dia menemui Allah Taala dalam keadaan bersih daripa segala kesalahan." - ar Tarmizi

Surat Untuk Yang Tersakiti    

Oleh : Muhammad Baiquni
 
Teruntuk seseorang yang pernah ku sakiti. Teruntuk seseorang yang kecewa dengan tingkahku selama ini, untuk dia yang terus berdiam diri, untuk seseorang yang pernah mengisi namanya dihatiku ini. 
Assalamu’alaikum wahai engkau yang pernah tersakiti,
Lama kita tidak saling mengirim kabar, teramat lama juga kita membangun luka antara sesama kita. Maafkanlah aku yang terus kecewa, maafkan aku yang begitu posesif ingin melindungimu namun aku tak pernah mengerti cara yang dewasa yang kau anggap baik untuk melindungimu. Maafkanlah aku yang tak pernah dewasa dalam mengambil sikap.
Teramat lama aku ingin segera mengakhiri perang dingin ini. Teramat lama aku ingin kita kembali berteman seperti dulu lagi, tanpa harus ada makian antara aku dan kamu. Teramat lama dan telah teramat sesak aku menunggu waktu yang tepat untuk mengucapkan kata maaf ini. Maka maafkanlah aku.Apakah engkau harus terus memegang kata: tidaklah mudah untuk memaafkan.
Bukankah Tuhan saja Maha Pemaaf, namun mengapa aku atau engkau tidak mampu memaafkan? Sudah menjadi tuhan-tuhan kecilkah kita?Atau memang engkau telah memaafkan segala kesalahanku? Namun mengapa telah terputus tali silaturahmi diantara kita?
Jangan seperti itu. Sungguh jangan seperti itu. Janganlah begitu mudah memutuskan sesuatu yang berat, janganlah begitu mudah membenci sesuatu. Hal yang engkau anggap ringan itu sebenarnya adalah sesuatu yang berat di mata Allah. “Dan janganlah kebencianmu pada suatu kaum membuatmu berlaku tidak adil.”Masih ingatkah engkau suatu kisah, dimana engkau bercerita: “Aku pernah memiliki seekor domba, dulu domba itu begitu kusayang. Kemana aku pergi domba itu mengikutiku, dan kemana domba itu beranjak akupun mengikutinya. Namun suatu hari aku amat begitu buruk dan membencinya, domba itu mulai sering mengomel. Dia mengoceh betapa aku harus lebih sering mandi, dia terus berkelakar bahwa tidak baik jika aku tidak mandi. Dia mulai sering mengkritikku. Aku marah. Aku ku tinggalkan domba itu sendiri. Tidak peduli dia mau mati atau terisak nangis sendiri. Bahkan domba itu mulai membentak bahwa selama ini aku tidak ikhlas menemaninya, padahal aku ikhlas.
Dan aku pun tersenyum mendengar kisahmu. Aku pun berkata, “Mengapa tidak kau temani lagi dombamu yang sedang merajuk itu?”Kau pun ketus menjawab, “TIDAK! Dia bukan dombaku!
Tahukah engkau wahai seseorang yang pernah ku sakiti, aku pun kini merasakan apa yang dialami oleh domba itu. Terlalu sakitkah dirimu sehingga engkau begitu membenciku dan menjadikan aku laksana domba dalam ceritamu?
Jangan seperti itu. Sungguh jangan seperti itu. Janganlah engkau seperti Yunus ketika meninggalkan kaumnya karena kemarahannya akibat kezaliman kaumnya dan Allah pun memperingatkan Yunus, “Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.
Dulu kita pernah berteman baik sekali, hingga aku pun mengerti kapan kau akan sakit dalam tiap-tiap bulanmu. Dulu engkau begitu pengasih, hingga tahu betapa aku menginginkan sesuatu dan engkaupun memberikannya. Dulu, kita berdua begitu baik.
Namun mengapa setelah datang kebaikan, timbul keburukan?
Sedari awal, aku telah memaafkanmu. Bahkan aku merasa, kesalahanmu di mataku adalah akibat salahku. Aku yang memulai menanam angin, dan aku melihat badai di antara kita. Badai dingin yang amat begitu menyesakkan. Paling tidak untukku.
Jangan takut jika engkau khawatir perasaan cinta yang dulu melekat akan kembali timbul. Aku bukanlah seorang baiquni seperti yang dulu lagi. Aku telah mengubah sudut pandangku tentang seseorang yang layak aku cintai. Aku sekarang sedang mencari bidadari.
Ingin aku bercerita kepadamu, kandidat-kandidat bidadariku.
Mengapa setelah habis cinta timbul beribu kebencian. Mengapa tidak mencoba membuka hati untuk seteguk rasa maaf. Jujur, bukan dirimu saja yang tersakiti, namun aku juga. Namun aku mencoba membuang semua sakit yang begitu menyobek hati. Andai engkau tahu wahai engkau yang pernah kusakiti.Pernahkah engkau menangis karenaku seperti aku menangis karenamu? Seperti aku terisak dihadapanmu. Pernahkah?
Mungkin dirimu telah menemukan seseorang yang begitu engkau sayangi. Seseorang yang mampu membangkitkan hidupmu lagi, tetapi aku? Pernahkah engkau berpikir betapa hal yang engkau lakukan terhadapku begitu berdampak laksana katrina. Bahkan setelah itu aku masih memaafkanmu, bahkan aku menunduk memintamu memaafkan aku.
Sudah menjadi tuhan kecilkah dirimu? Bahkan Tuhan saja memaafkan.
Tahukah wahai engkau yang pernah tersakiti, betapa aku meneteskan air mata saat menulis ini. Betapa aku seolah pendosa laksana iblis yang terkutuk. Apakah engkau mengerti apa yang kurasakan? Mengertikah dirimu?
Tak pernah ada manusia yang luput dari suatu kekhilafan. Tidak aku, tidak juga kamu wahai engkau yang pernah tersakiti. Maka, bukalah pintu maafmu itu.Untuk surat ini, untuk kekhilafanku yang lampau, untuk kenangan yang membuatmu sakit, untuk segala sesuatu tentang kita, aku minta maaf.Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sekali lagi tentang cinta...

Aku Mencintaimu, Bahkan Sebelum Kita Bertemu..

Entah dari dialog film, lirik lagu, kutipan novel, atau sebaris kalimat dari artikel from nowhere, yang jelas rasanya Saya merasa tak asing dengan kalimat tersebut. "Aku mencintaimu, bahkan sebelum kita bertemu.." Ya, kalimat yang terasa sangat konyol bagi orang-orang yang kritis dan realistis. Luar biasa konyol. Yaiks!

Kalo ada seseorang yang berkata demikian padamu, ckck.. Kamu yang waras mungkin akan langsung mengernyitkan dahi berlipat-lipat, walau semahadahsyat apapun kecantikan/ketampanan si doski. "Ehmm..Heloo..? Mencintai sebelum bertemu? How can? Kalo ketemu gue aja sama sekali belum pernah, kenal aja engga, so how can a little thing called love come to you? And, the craziest thing is,, you give your love to a stranger! Kibul! Gombalan lo pera' kaya beras jatah!"

Hahaha..tapi bener kan? Senaksir-naksirnya orang pada kenalan chattingnya di MIRC (et dah!) atau fesbuk,it's nearly impossible kalau rasa itu bertumbuh jadi cinta, apalagi berujung di pelaminan, sebelum keduanya bertemu satu sama lain. Minimal liat profile picture nya lah (itu juga kalo asli..pff..;D)
Bahkan lewat jalur syar'i tahapan menuju munakahat (pernikahan) pun ada proses tukeran informasi, yang nantinya pun sampai pada tahap nadhor, pertemuan antara kedua belah pihak. Saling melihat wujud asli (hehe..:) satu sama lain sebagai pertimbangan atau penguat pendirian. Jadi,,mana ada cinta yang tumbuh tanpa terlebih dulu memandang wajah pasangan? Impossible. Yah, setidaknya itulah jawaban jujur yang keluar dari perintah akal. Maybe hanya wanita yang kadung kecemplung and  kelelep di kolem asmara panas membara yang membuat tak ada logika aja yang bisa kemakan rayu-rayu gembel macem itu. "Aku mencintaimu, bahkan sebelum bertemu?"  Haha.. LUCU!
But let me ask you, pals..Think again. Think wide.
Percayakah kamu akan cinta jenis ini? Cinta bertumbuh tanpa pertemuan? 
Percaya?
Usirlah dulu bayanganmu tentang adegan pria/wanita yang dengan wajah bersemu merah jambu unyu-unyu mengucapkan kalimat tersebut di depan si doski yang notabene non mahromnya, modus bin ngarep diterima cinta atau dipercayai janji-janji muluknya. Hapus. It's not about that ridiculous moment.  

Ada ngga ya?"Ih. emang beneran ada ya, cinta model gitu? bisa cinta sebelum ketemu? Ga cayaa ahh!"
Oke, bagaimana kalau kamu utarakan pertanyaan itu, umm..nonono. Lihatlah secara live wal langsung jenis cinta itu pada seorang hamba yang tak bosan membiasakan lambungnya jauh dari peraduan di sepertiga malamnya. Terisak mengadu atas gelimang dosa dan memunajatkan pengampunan dan rahmatNya. Lihatlah. Apakah ia pernah bertemu Rabb nya? Jika tidak, lalu mengapa ia begitu menghamba cintaNya?Well, kalau memang tak ada contoh sosok demikian di sekitar yang bisa kau amati, maka bacalah kisah-kisah teladan tentang keshalihan seorang hamba. Siapapun mereka, bernama ataupun tidak. Mereka yang ihsan dalam berperilaku, merasa begitu sesak walau hanya selintas lalu memikirkan niat untuk melanggar larangan Tuhannya. Tak kuasa mengecewakan dzat yang dicintainya. Sesungguhnya, cinta si hamba tsb telah berbalas berkian kali lipat, bahkan sebelum ia mengenal cinta. Rasanya Saya tak perlu lagi menjabarkan bukti cinta Allah pada kita, hambaNya.. You've known it well, right? Bukti cintaNya ada di dirimu, sekelilingmu dan seluas pemahaman kalbumu. 
Waw. Ternyata ada cinta jenis itu. Cinta sebelum bertemu.

Next, Lihatlah langsung jenis cinta itu pada mukmin penelaah hadist dan pelaksana sunnah. Pernahkan mereka bertemu Rasul nya? Berulang kali kita diingatkan mengenai kisah kecintaan Rasulullah pada umatnya,, di majelis-majelis, peringatan maulid di sekolah dulu, artikel page islami di efbe, di mana-manalah. Rasulullah cinta pada seluruh umatnya, tercermin dari kesabaran perjuangan dan kisah wafatnya beliau (masih inget kan?). Pernahkah Rasulullah bertemu kita sebelumnya? Tidak. 
Ternyata ada cinta jenis itu. Cinta sebelum bertemu.

"Hei, hei.. klise banget sih! Cinta Allah, cinta rasul.. semua orang juga tau! Yang spesipik dong! Kalo cinta lawan jenis gimana? gak mungkin kannn??"

Haha..buat kalian yang berpikir demikian,, Hmm.. Nampaknya Saya harus membocorkan satu rahasia besarr nih. Psstt! tapi jangan bilang-bilang ya! Cinta lawan jenis pun ada yang demikian, loh! Cinta sebelum bertemu! #bisikbisik
"WIIHHH... masa sih??! Lw percaya ada cinta kayak gitu? Sakit nih anak!"#hebohsendiri
Eiits, jangan sewot dulu. Saya percaya kok bahwa ada cinta lawan jenis yang jenis ini (haiyah ribet banget. gimana kalo kita singkat 'cinta lawan jenis' dengan 'cinta dia'. oke?). Ada loh, tapi ya..syarat dan ketentuan berlaku.

"Syaratnya?"
Seperti dua contoh di atas, 'cinta dia jenis ini' juga butuh bukti. Itu syarat pertama. Syarat kedua adalah kita sudah harus punya modal cinta pada Allah dan Rasul yang cukup. Itu syarat terakhir. Hmm.. sebelum kamu nyerocos lagi: "Buktiin apa? ke siapa?" Mari lihat langsung contohnya pada saudara-saudari kita yang telah memiliki 'cinta dia' versi ini. Dan kalau judulnya masih "Cinta Sebelum Bertemu", otomatis kita harus melirik (ups!) sis and bro kita yang masih jomblo (belom ketemu jodohnya kan? #bercermin #senyumsetengahsenti #pahit). 
Ehm. 
Ada bakso di dalem kimlo. Dimasak Ria yang makan JajaJomblo bukan sembarang jomblo! Slalu ceria and bersahaja. 
#pantunpenghiburandiri. :D

Wes wes..udah cecengirannya. Kembali ke topik. Mari amati 'cinta dia jenis ini' pada sosok muslim dan muslimah keren,yang karena kedalaman pemahaman mereka terhadap kasih sayang Allah dan RasulNya, akhirnya mampu menumbuhkan 'cinta dia jenis ini' di dalam hatinya. Sadar ataupun tidak. Waw..Buktinya? 
Muslim/muslimah pemilik cinta ini berpasrah, siapapun sosok misterius yang belum terpecahkan itu nantinya,,maka cintanya hanya akan dipersembahkan untuk jodohnya seorang. Meski belum bertemu kini, namun sekuat hati ia akan menjaga kesucian dirinya hanya bagi jodohnya kelak. 

Nyambung ke masalah kesucian, Saya jadi inget taushiyah salah seorang da'i muda yang memaparkan perbedaan antara kesucian dan keperawanan/keperjakaan. Well, kalo masalah rangkul-rangkulan antar non mahrom (meski ga sampe gegulingan -> berantem? x_x)  ajaa baginya udah jadi hal biasa banget, kira-kira muslim jenis ini masih dalam kategori penjaga kesucian diri bukan ya? (o_O)?  Jawab sendiri lah.

Muslim/muslimah yang mencintai jodohnya bahkan sebelum bertemu, memiliki perisai khusus dalam qalb nya yang mampu menangkal godaan syahwatnya untuk 'mencuri-curi' kesempatan. Perisai itu terbentuk dari kecintaannya pada Allah dan Rasulnya. Jaga pandangan, sikap, dan perasaan. Cukup ikhtiar dengan perbaiki kualitas diri dan 'usaha-usaha' lainnya, selama masih berada dalam pagar syariat.  

Subhanallah..Sebelum bertemu aja udah punya bukti cinta.. Waah..Siapa yang tidak mau dicintai oleh seseorang dengan cinta sebesar itu?

Pacarku kan Jodohku.. --> Ciyuzz?? Miapahh?? 
Duh. Masih ngeles juga? kesian deh! Berapa banyak contoh kasus pacaran-MBA-cerai atau yang lebih parah pacaran-hamil-aborsi.. Atau bagi pria..mm.. pacaran-diporotin-ditinggal kawin (hihi..) Semua itu terjadi karena kita sudah sok yakin dengan kehebatan 'cara-cara buatan sendiri' yang menyalahi 'cara-cara yang telah diatur oleh Allah dalam Islam'. Pacaran islami? Waw.. fenomena 'unik' macam apa itu? /(*0*)\

Gaya Pacaranku Gak Aneh-Aneh Kok.. --> #gedubraggKekeuh ye. Hahaha... Yasudahlah sob, terserah deh. Ngutip kata-katanya Om Tere Liye, tulisan ini dibuat hanya bagi orang yang mau berpikir. Lagipula, bahasannya adalah seputar "Cinta Sebelum Bertemu (Si Jodoh)". So, kalau kamu merasa pacarmu saat ini sudah jadi jodohmu, berarti persepsi kita tentang jodoh memang berbeda. Selesai.

Hmm..Baiklah. Intinya, kita bisa mencintai bahkan sebelum kita bertemu dengan dia yang kita cinta. Allah, Rasulullah, jodoh.. Ada lagi?
Oh iya. Jadi inget jawaban si Mila, muridku yg super polos, salah satu unyilku di kelas 8. Sambil mengacungkan tangan lalu menunjuk-nunjuk perutnya, si Unyil berkata, "Itu Miss, cinta ibu sama bayinya yang masih di perut. Kan ibunya belom ngeliat!" 
#tepokjidat "Bener Mila! Setuju!" Cinta ibu pada kandungannya pun bisa masuk kategori cinta jenis ini ya? Cinta sebelum bertemu.. So sweet. Berarti wanita punya kesempatan lebih dong ya, untuk memiliki jenis cinta sebelum bertemu? Secaraa ikatan batin ibu-anak kan sudah terbentuk sejak baby still inside. Beda sama ayah-anak dong (keluar deh feminism nya. hhe)

Jadi.. "Aku mencintaimu, bahkan sebelum kita bertemu.." -->Percaya kan?
Belive it, pals! Percayalah.. Namun, ucapkan, pahami, dan hayati kalimat tersebut dalam dirimu sendiri...
Bagi yang ingin bertemu Allah nya, ucapkan sekarang dan nanti saat benar bertemu (aamiin)..."Aku mencintaiMu Yaa Allah, bahkan sebelum kita bertemu.." tapi BUKTIKAN DARI SEKARANG!
Bagi yang ingin bertemu Rasul nya, ucapkan sekarang, dan nanti saat benar bertemu (aamiin)... "Aku mencintaimu Yaa Rasulullah, bahkan sebelum kita bertemu.." tapi BUKTIKAN DARI SEKARANG!
Bagi yang ingin bertemu jodoh nya, ucapkan sekarang, dan nanti saat benar bertemu (AAMIIN.. x) "Aku mencintaimu duhai jodoh yang dinanti, bahkan sebelum kita bertemu.." tapi BUKTIKAN DARI SEKARANG!
Bagi ibu yang ingin  bertemu calon buah hatinya (yang sekarang lagi hamil loh ya!), ucapkan sekarang, dan nanti saat benar bertemu (aamiin) .. "Aku mencintaimu nak, bahkan sebelum kita bertemu.." tapi BUKTIKAN DARI SEKARANG!(Jadi inget temen2 kuliah yang lagi pada isi.. ikut bahagiaa :)

No Offense, ya!
Tiada sedikitpun maksud menyindir atau menyentil apalagi menggurui (walau sy memang guru) sis and broyang mungkin merasa tersentil (apa sih) dengan adanya tulisan ini. Berhubung ini notes pribadi, jadi suka-suka Saya dong mau nulis apa dan sepanjang apa.. hehe (#tebelmuka). Penulis sendiri sejatinya sedang berupaya sekuat hati (walau terseok-seok.. tsah!) membuktikan cinta jenis ini untuk contoh 1-3.. Aargh!! Ngebuktiinnya ternyata susaah loh! #garuktembok. Tapi ga boleh nyerah!
Hmm..kalo untuk contoh ke-4.. nampaknya belum bisa ya. Kan dengan contoh ke-3 nya aja belum ketemu.. #kokcurcol :D

Well, disudahi saja ya.. Mari kita tutup chit-chat ini dengan hamdalah.. (#ala kakak bimbel). Semoga Allah senantiasa melembutkan hati kita semua untuk menerima dan memahami nasihat yang baik, ya. Aamiin..Allahumma aamiin.. :)

on my messy bed, 13413.
by : Nyanyut luverpool

Entri Populer